CerpenKarya

Cerpen Kancil yang Bandel

Diceritakan di dalam hutan, Kancil telah memiliki seekor anak. Karena kasih sayang dan perhatian dari ibunya, anak Kancil tumbuh menjadi Kancil yang malas, manja dan bandel.

Setiap hari, Ibu Kancil selalu mengawasi anaknya. Tidak pernah sedekitpun anaknya lepas dari pengawasannya. Kemanapun Ibu Kancil pergi, dia selalu mengajak serta anaknya.

Pada suatu hari, Kancil bertemu dengan Rusa di pinggir sungai. Tampak Rusa sedang bersedih hati. Dia menangis di atas sebuah batu.

“Kenapa kamu menangis Rusa?” tanya Kancil sambil mendekati Rusa. Rusa menoleh ke arah datangnya Kancil. Namun, dia tidak menjawab. Malah tangisnya semakin menjadi.

Setelah Kancil ada di sampingnya, barulah Rusa menjawab sambil terisak. “Hutan kita sekarang sudah tidak aman lagi Kancil. Anakku telah dibunuh oleh Pemburu.”

“Apa? Pemburu?” Kancil terkejut. “Di mana Pemburu itu Rusa? Kita harus segera memberitahu penghuni hutan yang lain agar mereka bisa berhati-hati,” kata Kancil.

“Anakku di bunuh oleh Pemburu itu di hutan dekat danau. Aku lalai menjaga anakku Kancil. Tiba-tiba saja sebatang anak panah telah menancap tubuh anakku. Aku terkejut dan langsung melarikan diri Kancil. Anakku tidak bisa aku selamatkan hu…” Rusa menangis tersedu.

“Sudahlah Rusa, jangan bersedih lagi. Kita harus segera memberitahu penghuni hutan yang lain. Agar tidak lagi ada hewan yang bernasib seperti anakmu. Jika semua berhati-hati, tentu Pemburu tidak akan memperoleh buruan. Sehingga, mereka akan meninggalkan hutan kita,” kata Kancil menenangkan Rusa.
“Kamu benar Kancil, ayo segera kita beritahu hewan yang lain.” Rusa bangun meninggalkan Kancil. Dia berlari menuju ke hutan. Memberitahukan kepada setiap hewan yang ditemui agar berhati-hati terhadap Pemburu.

Kacil segera mengajak anaknya untuk kembali ke rumah mereka. “Anakku, ayo kita kembali ke rumah.” ajak Kancil. Anaknya yang asyik bermain air, tampak tidak mau untuk diajak kembali ke rumah. “Ibu, aku masih senang di sini. Aku masih senang bermain air Ibu. Biarkan aku bermain di sini sebentar Ibu,” rengek Anak Kancil.

“Tidakkah kau mendengar apa yang dialami oleh Rusa Nak? Hutan kita sekarang tidak aman. Pemburu telah memasuki hutan kita. Anak Rusa sendiri telah menjadi korban. Tidak takutkah kamu kepada Pemburu?” tanya Kancil kepada anakknya.

“Pemburu? Hewan apakah dia Ibu? Mengapa semua hewan sangat takut kepada Pemburu?” tanya anak Kancil ingin tahu.

“Pemburu bukan hewan Nak. Dia adalah manusia. Dia memiliki dua tangan dan dua kaki. Gerakannya sangat cepat, dan yang paling kita takuti adalah kepintaranya. Dia memiliki senjata yang bernama panah. Benda itu bisa membunuh kita dari jarak yang sangat jauh”

Anak Kancil yang masih ingin bermain di sungai itu, tetap tidak mau mendengar penjelasan ibunya. “Ibu, kita bermain lagi sebentar saja ya. Aku masih senang bermain di sungai ini,” rengek anak Kancil.
Ibu Kancil tidak tega mendengar rengekan dari anaknya. Walaupun, dalam hati dia menyadari bahwa tempat anaknya bermain saat itu sangat berbahaya.

Anak Kancil sangat senang bermain dengan air. Dia mempermainkan air dengan kaki depannya. Sesekali dia memasukkan kepalanya ke dalam air.

Ibu Kancil mengawasi anaknya yang sedang bermain. Sesekali dia melihat ke sekitarnya. Dia kahwatir jika sampai pemburu melihat mereka berdua di sungai itu.

Walaupun sudah mengamati sekeliling dengan seksama, Ibu Kancil tetap tidak mengetahui ada bahaya yang mengintai. Di balik rimbunnya semak, tampak Pemburu mengawasi kedua Kancil tersebut. Dengan berlahan pemburu menyiapkan panahnya.

Pemburu yang sudah siap dengan panahnya kemudian membidik anak Kancil yang sedang bermain di sungai. Dengan cermat anak panah tersebut diarahkan menuju perut anak Kancil.

Sinar matahari tidak berpihak kepada Pemburu. Ujung anak panah yang terbuat dari besi memantulkan cahaya. Kilatan cahaya inilah yang menyadarkan ibu Kancil akan bahaya besar yang akan mengancam anaknya. Segera dia melompat untuk memperingatkan anaknya.

Namun sayang, sebelum dia bisa memperingatkan anaknya sebuah anak panah telah meluncur ke arah anaknya. Ibu Kancil dengan cepat melindungi tubuh anaknya dengan tubuhnya. Anak panah tersebut menancap di dada Ibu Kancil.

Anak Kancil terhenyak, melihat ibunya yang telah tersungkur dengan anak panah telah menancap di tubuhnya. Dia sadar, bahwa Ibunya celaka karena melindungi dirinya.

Anak Kancil merasa menyesal, seandainya dia tidak meminta untuk bermain tentu Ibunya tidak akan terkena panah pemburu. Dia mendekati Ibunya yang menahan sakit. “Ibu, maafkan aku Ibu. Maafkan aku, karena tidak menuruti nasehatmu,” seru Anak Kancil sambil mengguncang tubuh ibunya.

“Pergilah Anakku. Pergilah sekarang. Pemburu itu akan semakin dekat. Pergilah anakku. Selamatkan dirimu. Berjanjilah kamu akan menjaga dirimu dengan baik. Karena sekarang ibu tidak bisa menjagamu lagi,” sambil menahan sakit, Ibu Kancil menyuruh anaknya untuk pergi.

Anak Kancil dengan bercucuran air mata segera melompat pergi meninggalkan Ibunya. Dia merasa sangat menyesal, karena kebandelan dirinya dia harus kehilangan Ibunya. Dia berjanji dalam hati untuk tidak akan bandel lagi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker