CerpenKarya

Cerpen Katak dan Ular

Di sebuah hutan hiduplah seekor ular yang memiliki suara yang sangat merdu. Setiap hewan yang mendengar suara Ular saat bernyanyi pasti akan terpana dan terkagum-kagum. Karena kelebihannya itu, ular tersebut menjadi sombong.

Ular tersebut memiliki seorang sahabat, dialah Katak. Setiap hari mereka selalu pergi bersama.

Pada suatu hari Ular dan Katak pergi mencari makanan di pinggir sungai. Ular mencari tikus di lubang tebing sungai. Dia melata di tebing sungai sambil menjulurkan lidahnya. Dengan berlahan dia terus melata dan berhenti di sebuah lubang. Di depan lubang, secepat kilat kepalanya menyambar ke dalam lubang. Seekor tikus sudah meronta di mulutnya. Dengan sekali telan tikus tersebut masuk ke perut Ular.

Katak yang sejak tadi asyik menangkap serangga terkesima melihat Ular menangkap mangsanya. Dia merasa heran dan kagum akan kehebatan sahabatnya itu.

Setelah kenyang, kedua sahabat tersebut memilih untuk beristirahat. Mereka beristirahat bersama di bawah pohon.

“Sahabatku Ular, aku merasa heran denganmu. Kau tidak memiliki hidung dan matamu juga tidak begitu tajam, tapi bagaimana kau bisa mengetahui tikus yang ada di lubang tanah tadi?” tanya Katak sambil membaringkan tubuhnya di sebuah akar.

Ular merasa bangga akan pujian sahabatnya. Dia tersenyum kepada Katak dan berkata “Sahabatku Katak, kau memang benar. Aku memang tidak memiliki hidung. Mataku pun tidak bisa melihat dengan baik. Namun aku memiliki lidah yang memiliki kemampuan melebihi mata maupun hidung. Lidahku inilah yang membantuku untuk mengetahui keadaan di sekelilingku. Termasuk mengetahui tikus tadi. Lihatlah ini Katak, lidahku ini juga membantuku untuk mengenalimu” Ular menjulurkan lidahnya kepada Katak dengan angkuhnya.

Katak memperhatikan lidah Ular. Dia melihat lidahnya tidak jauh berbeda dengan Ular. Katak lalu berkata, “Tapi, aku merasa lidahku tidak berbeda dengan lidahmu Ular. Tapi mengapa aku tidak bisa mempergunakan lidahku untuk mengetahui lingkunganku. Aku hanya bisa mempergunakan lidahku untuk menangkap mangsaku saja.”

“Hahaha kau sungguh lucu Katak. Walaupun lidah kita sama, namun lidahmu tidak akan mampu menyamai kehabatan lidahku” kata Ular menunjukkan kesombongannya.

Katak hanya menggut-manggut mendengar kata-kata Ular. Dalam hati dia merasa jengkel dengan keangkuhan dari Ular. Namun, dia tidak ingin bertengkar dengan sahabatnya itu. Kemudian dia teringat akan kemampuan sahabatnya yang lain. “Ular, engkau terkenal karena suaramu yang merdu. Maukah engkau bernyanyi untukku?”

Ular tersenyum bangga,” Aku memang hewan yang memiliki suara paling merdu di hutan ini. Baiklah Katak, aku akan bernyanyi untukmu.”

Ular bernyanyi dengan merdunya. Katak yang sebenarnya merasa kesal dan lelah karena keangkuhan Ular, merasa sedikit terhibur. Kantuknya yang dari tadi menyerang seketika hilang. Suara nyanyian Ular benar-benar membuat Katak kembali bersemangat.

Tidak hanya Katak, hewan-hewan yang berada di sekitar pohon tersebut juga terpesona oleh nyanyian Ular. Seolah tersihir, hewan-hewan tersebut berjalan menuju pohom tempat Ular bernyanyi. Dalam sekejap saja, banyak hewan yang sudah berkumpul di sekeliling Ular bernyanyi.

Setelah nyanyian Ular berakhir, barulah mereka menyadari bahwa di sekeliling mereka telah berkumpul banyak binatang. Ular merasa sangat senang, karena seluruh hewan tersbut menikmati lagu yang dia nyanyikan.

“Wahai Ular, sungguh merdu sekali suaramu. Maukah kamu bernyanyi untuk kami sekali lagi?” pinta Landak. Permintaan Landak langsung disambut meriah oleh seluruh hewan yang ada di sana.

“Hahaha… baiklah Landak, aku akan bernyanyi untukmu dan seluruh hewan yang ada di sini. Kalian boleh menari saat aku bernyanyi. Kita akan bergembira hari ini” kata Ular yang disambut meriah oleh binatang yang ada di sana.

Ular kemudian menyanyikan sebuah lagu yang gembira. Seluruh binatang yang ada di sana menari dengan gembira. Termasuk Katak sahabat Ular.

Sebenarnya tidak semua binatang yang ada di sana menikmati nyanyian Ular. Di sana ada seekor binatang yang sangat benci dan dendam kepada Ular. Ya, binatang tersebut adalah si Tikus. Penyebabnya adalah karena Ular telah memakan banyak saudara dan teman-temannya.

Tikus berada di sana karena ingin mencari kesempatan untuk bisa membalas dendam kepada Ular. Dia berusaha mengamati keadaan dan mencari cara untuk menjalankan niatnya.

Tikus hampir merasa putus asa. Dia tidak bisa melihat kesempatan untuk membalas dendam kepada Ular. Sebab, seluruh hewan yang ada di sana sangat menyukai nyanyian Ular. Jadi mustahil dia akan bisa untuk mencelakakan Ular. Namun, ketika dia mengetahui Ular memiliki Sahabat, dia kembali menemukan semangatnya. ”Aku akan mempergunakan Katak untuk mencelakakan Ular,” gumam Tikus.

Tikus mendekati Katak yang sedang asyik menari. Setelah dekat dengan Katak, Tikus berbisik kepadanya, “Katak, ikutlah aku sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu.” Katak menoleh ke arah Tikus. Dia bertanya” Ada apa Tikus? Apa yang ingin engkau sampaikan kepadaku?”

“Ikutlah denganku Katak. Di sini terlalu bising. Kita tak akan bisa leluasa berbicara. Hal yang aku sampaikan ini sangat penting.” Tikus pergi ke arah balik pohon yang diikuti oleh Katak.

Setibanya di belakang pohon, Tikus lalu berkata kepada Katak, “Wahai Katak, aku kasihan kepadamu. Engkau memang bersahabat dengan Ular. Tapi, aku merasa engkau tidak dianggap teman oleh Ular. Setiap hari kau hanya dihina oleh Ular.” Tikus berusaha menghasut Katak agar membenci Ular.

Katak merasa apa yang disampaikan oleh Tikus benar. Setiap hari dia bersama Ular, namun Ular hanya menghina dirinya saja. “Engkau benar Tikus. Sudah lama aku kesal kepada Ular. Tapi, aku tidak tahu bagaimana cara membalas Ular” kata Katak sambil menunduk.

“Tenang saja Katak, aku akan membantumu. Aku juga sangat membenci Ular. Dia telah banyak memangsa teman-teman dan saudaraku. Mendekatlah Katak, akan kubisikkan sebuah rencana untuk mencelakakan Ular.” Kata Tikus.

Katak kemudian mendekati Tikus. Dengan berbisik, tikus menyampaikan rencana liciknya untuk mencelakakan Ular. Katak manggut-manggut mendengar rencana Tikus.

“Ingat Katak, keberhasilan rencana ini tergantung kepadamu. Jangan sampai kamu membuat Ular curiga” pesan Tikus sebelum kembali menuju tempat Ular bernyanyi. Katak mengangguk dan mengikuti langkah Tikus.

“Katak, kamu pergi ke mana tadi? Aku tidak melihatmu saat aku selesai bernyanyi tadi” Ular bertanya kepada Katak yang baru datang dari balik pohon.

“Maaf Ular, tadi aku pergi mencari air di balik pohon. Aku merasa haus sekali setelah menari tadi,” sahut Katak.

“Aku kira kamu pergi karena tidak menyukai nyanyianku. Tapi, setelah aku pikir, mana mungkin ada hewan yang tidak suka kapada suaraku” kata Ular.

“Katak, ayo kita pulang. Hari sudah mulai sore,” ajak Ular sambil bergerak menuju ke rumah mereka. Katak yang teringat rencananya untuk mencelakakan Ular segera mencegah Ular untuk pulang lewat jalan yang sudah biasa mereka lewati. “Ular, kita jangan melalui jalan itu. Aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat.”

“Kamu ingin mengajakku ke mana Katak?” Ular menghentikan langkahnya sambil menoleh kepada Katak.

“Ayo ikutlah. Nanti aku akan menceritakannya kepadamu sambil melakukan perjalanan.” Katak melangkah masuk ke dalam hutan yang diikuti oleh Ular.

“Dahulu kala, nenek moyangku mempercayai sebuah cerita. Bahwa di sebuah daerah di hutan ini terdapat hutan ilalang yang menyimpan embun ajaib. Jika embun itu bisa diminum oleh hewan, maka bisa menjadikan hewan tersebut abadi. Namun sayangnya, embun itu hanya bisa diminum oleh hewan yang memiliki kemampuan khusus. Kemampuan seperti yang kamu miliki Ular,” Katak bercerita kepada Ular.

“Tidakkah kamu ingin hidup abadi Ular”

“Tentu sahabatku. Aku ingin bisa hidup abadi. Di manakah hutan ilalang yang engkau maksudkan tadi?” tanya Ular.

“Ayo ikutlah Ular. Tempatnya tidak jauh dari sini!” seru Katak sambil mempercepat lompatannya. Ular tidak mau kalah dengan Katak. Dia melata dengan cepat mengikuti Katak.

Tidak lama kemudian mereka berdua telah tiba di sebuah tempat yang dipenuhi oleh rumput ilalang. “Di sinilah tempatnya Ular. Di salah satu daun rumput ilalang itu terdapat embun ajaib yang aku ceritakan tadi,” kata Katak.

“Bagaimana caraku untuk menemukan embun yang kamu maksudkan tadi Katak? Pohon ilalang di sini kan banyak sekali.”

“Kamu harus menjilati permukaan daun ilalang itu Ular. Nanti ketika lidahmu merasa panas, itulah tanda bahwa kamu telah menemukan embun itu. Segeralah kamu telan embun itu” kata Katak.

“Embun itu harus bisa kamu temukan sebelum tengah malam. Kalau tidak, embun itu tidak akan memiliki kahsiat untuk membuatmu hidup abadi” lanjut Katak.

Ular yang ingin sekali hidup abadi segera menjilati rumput ilalang yang ada di sana. Karena keinginannya yang besar, dia tidak merasakan kalau lidahnya telah terbelah oleh tajamnya rumput ilalang tersebut.
Ular baru sadar, kalau lidahnya terbelah ketika dia merasa perih di lidahnya. Dia berhenti dan menoleh ke arah Katak.

“Katak, kenapa lidahku bisa terbelah seperti ini?” tanya Ular dengan suara mendesis karena lidahnya terbelah.

Katak yang mendengar suara mendesis ular merasa senang. Dia gembira karena rencana untuk membuat Ular celaka berhasil. “Hahahaha rasain kamu Ular. Mulai saat ini kamu tidak akan bisa bernyanyi lagi!” seru Katak sambil tertawa terbahak-bahak.

Ular menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh sahabatnya. Dia merasa sangat marah. Sambil menahan sakit pada lidahnya dia berseru, “Dengarlah Katak, mulai hari ini aku dan seluruh keturunanku akan menjadikan Katak sebagai makanan.”

Mendengar apa yang diucapkan oleh Ular, Katak merasa ketakutan. Dia kemudian pergi meninggalkan Ular yang merasa kesakitan. Sejak saat itulah Ular selalu menangkap Katak sebagai makanannya. Oleh karena lidah Ular yang telah terbelah, dia tidak bisa mengeluarkan suara merdu lagi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker