CerpenKarya

Cerpen Mengusir Pemburu

Kancil yang sedih karena ditinggal oleh ibunya, berlari dengan kencang ke dalam hutan. Ia menuju ke pohon besar yang terletak di tengah hutan tersebut. Pohon itu sering dijadikan sebagai tempat melakukan pertemuan oleh hewan di hutan.

Tampak Rusa yang kehilangan anaknya, menangis tersedu. Kerbau, Kutilang, Ayam dan Itik berusaha untuk menghiburnya. Namun, usaha mereka sia-sia. Rusa tetap saja menangis.

“Kancil, di mana ibumu?” tanya Ayam yang melihat kedatangan Kancil. Hewan yang lain juga menoleh ke arah anak Kancil yang datang dengan terengah-engah.

Mendengar pertanyaan Ayam, Kancil menangis tersedu. “Ibu, telah ditangkap oleh pemburu. Ini semua salahku. Seandainya saja aku menuruti nasihat Ibu, tentu ia tidak akan ditangkap oleh pemburu,” kata Kancil sambil terisak.

Seluruh hewan yang ada di sekitar pohon tersebut tertunduk sedih. Mereka kehilangan harapan. Kancil yang terkenal cerdik, telah tertangkap oleh pemburu.

“Kita harus meninggalkan hutan ini,” kata Kerbau memecah suasana yang hening. “Hutan ini sudah tidak aman lagi. Kalau kita terus ada di sini, sangat berbahaya bagi kita,” lanjutnya.

“Kita harus ke mana?” tanya Rusa sambil terisak. “Ini adalah rumah kita. Tempat tinggal kita.”

“Benar kata Rusa. Ini adalah rumah kita. Kemanapun kita pergi, pemburu tersebut akan terus mengejar kita,” kata tupai sambil memeluk anak-anaknya.

“Satu-satunya cara, kita harus mengusir pemburu itu,” kata Monyet. “Kita harus memikirkan rencana untuk mengusir pemburu-pemburu itu,” lanjutnya.

“Seandainya Ibu Kancil masih ada, tentu ia akan memiliki rencana untuk mengusir pemburu tersebut,” kata Kerbau sambil memandang anak Kancil yang menangis tersedu.

Seluruh hewan yang ada di sana diam termangu. Mereka merasa putus asa. Suasan menjadi hening. Hanya terdengar suara isak tangis dari anak Kancil.

“Bagaimana kalau kita menyerang Pemburu itu bersama-sama?” Kelinci memecah keheningan tempat itu. Semua hewan memandang ke arah Kelinci. Beberapa dari mereka tampak manggut-manggut menyetujui usulan Kelinci. Tapi, ada juga yang menggelengkan kepala tanda tidak setuju.

“Pemburu memiliki senjata yang menakutkan Kelinci,” kata Rusa, salah satu hewan yang menggelengkan kepala karena tidak setuju. “Dari jarak jauh, Pemburu bisa menangkap anakku,” kata Rusa sambil menangis. Tangisnya kembali pecah ketika mengingat anaknya.

“Kita harus bisa mendapatkan senjata pemburu tersebut. Dengan begitu, dia tidak akan bisa melukai kita,” kata Monyet. “Aku yang akan mengambil senjata Pemburu itu.”

“Baiklah, Kutilang kamu mencari tahu di mana Pemburu itu berada. Setelah kita tahu, Monyet segera mengambil senjata dari Pemburu tersebut. Kemudian, Rusa memancing Pemburu menuju ke pohon Randu di sebelah timur hutan ini. Kita akan menunggu Pemburu tersebut di sana. Kita akan menakutinya agar tidak berani kembali ke hutan ini lagi,” kata Kerbau mengatur rencana. Hewan yang lainnya menganggukkan kepalanya.

“Aku akan berangkat sekarang mencari keberadaan Pemburu itu,” kata Kutilang. Dengan cepat ia terbang ke arah sungai.

Hewan yang lain melihat Kutilang menghilang di balik rimbunnya pohon. Dalam hati hewan tersebut berharap rencana mereka berhasil. Sehingga, hutan tempat tinggal mereka kembali aman.

Kutilang terbang dengan sangat hati-hati. Diamatinya semak-semak di sekitar sungai dengan cermat. Tidak satu pohon pun yang terlewatkan olehnya.

Karena lelah mencari, Kutilang hinggap di sebatang dahan pohon. “Di mana pemburu itu ya?” Kutilang bertanya dalam hati. “Menurut Kancil, ibunya ditangkap oleh Pemburu di sekitar sungai ini.” Kutilang mengamati dengan cermat semak yang terdapat di bawah pohon tempatnya hinggap.

Kutilang sangat terkejut ketika sebuah anak panah melesat di atas kepalanya. Badannya gemetaran, kaki dan sayapnya kaku. Kutilang tidak bisa bergerak karena terkejut.

Pemburu keluar dari balik semak yang ada di depan Kutilang. Ia membawa senjata di tangan kirinya. Dengan cepat Pemburu berjalan menuju ke seberang sungai.

Kutilang yang tadi kaku karena merasa terkejut, kembali tersadar. Dengan cepat ia terbang ke dahan yang ada di atasnya. Dari sana ia melihatnya Pemburu datang dengan memikul seekor babi hutan. Pada punggung babi tersebut tertancap sebatang anak panah.

Dengan hati-hati Kutilang mengikuti Pemburu keluar dari hutan. Pemburu tersebut menuju ke sebuah gubuk dari bambu. Di belakang gubuk tersebut tampak sebuah kerangkeng yang berisikan hewan buruan.

“Rupanya di sinilah tempat tinggal si Pemburu,” gumam Kutilang dalam hati. Diamatinya Pemburu tersebut masuk ke dalam gubuk. “Aku akan memberitahu hewan-hewan yang lain.” Kutilang terbang dengan cepat kembali ke pohon tempat teman-temannya menunggu.

Tidak berapa lama, Kutilang telah sampai ke pohon tersebut. Kedatangannya disambut dengan gembira oleh teman-temannya. Semua hewan mengerumuni Kutilang yang hinggap di sebatang dahan.

“Bagaimana Kutilang? Apakah kamu menemukan Pemburu tersebut?” tanya Monyet.

Kutilang dengan terengah-engah menjawab, “Pemburu itu tinggal di dekat sungai Monyet.” Kutilang menceritakan kejadian yang baru dialaminya.

“Kasihan Babi Hutan, dia tidak mengetahui kalau ada Pemburu,” kata Kerbau sedih setelah mendengar cerita Kutilang. “Pemburu itu sangat pintar. Dia sengaja berburu di sungai. Sungai itulah satu-satunya tempat kita mencari minum,” lanjutnya geram.

“Kita harus segera mengusir Pemburu itu dari hutan kita ini. Kalau tidak, akan banyak hewan yang menjadi korban,” kata Monyet geram. “Kutilang, ayo antarkan aku ke tempat Pemburu itu,” ajak monyet sambil menoleh ke arah Kutilang.

Tanpa menjawab Kutilang segera terbang menuju tempat Pemburu berada. Monyet mengikuti ke arah Kutilang pergi. Dengan cekatan ia melompat dari satu dahan ke dahan yang lainnya.

Tidak berapa lama, mereka telah tiba gubuk Pemburu. Kutilang hingga di sebuah pohon. Monyet bergelantungan di sebelahnya. Dengan hati-hati mereka mengamati gubuk Pemburu.

“Monyet, kamu tunggu di sini. Aku akan pergi ke dekat gubuk. Sepertinya Pemburu itu tidak tertarik pada hewan yang berukuran kecil sepertiku,” kata Kutilang sambil terbang ke arah jendela gubuk. Dengan sigap, ia mengitari gubuk tersebut.

“Pemburu tersebut sepertinya sedang tertidur Monyet,” kata Kutilang hinggap di sebelah Monyet. Monyet hanya manggut-manggut.

“Kamu melihat di mana senjata itu berada?” tanya Monyet.

“Sejata itu ditarus di dinding gubuk. Kamu harus berhati-hati dalam mengambil senjata itu, Monyat,” Kutilang mengingatkan Monyet.

Monyet segera turun dari pohon. Dengan hati-hati ia mendekati gubuk Pemburu. Dari jendela gubuk, ia melihat Pemburu tidur dengan lelapnya. Senjata pemburu tersebut tergantung di dinding di atas kepala Pemburu.

Dengan sangat hati-hati, Monyet naik ke jendela gubuk itu. Jarak antara jendela dengan senjata Pemburu tidak terlalu jauh. Namun, Monyet tidak mampu menjangkau senjata tersebut dari jendela.

Tidak putus asa, Monyet kemudian naik ke atap gubuk. Jarak atap ke senjata, lebih dekat dari pada ke jendela. Dengan sekali jangkauan, Monyet bisa meraih senjata Pemburu.

Monyet yang memperoleh senjata tersebut, segera melompat ke jendela. Karena kurang hati-hati, Monyet terjatuh dan menimbulkan suara berisik. Pemburu yang tertidur, terbangun oleh suara berisik.
Ia sangat marah ketika mengetahui Monyet telah mengambil senjatanya. Dengan tergesa ia terbangun dan berusaha untuk menangkap Monyet. Namun, monyet yang lebih gesit. Ia melompat keluar gubuk. Dengan cepat Monyet membawa senjata Pemburu ke pohon Randu. Pemburu yang kehilangan senjata, segera berlari mengejar Monyet.

“Kawan-kawan, aku sudah berhasil memperoleh senjata Pemburu,” seru Monyet dengan napas tersengal-sengal. Senjata tersebut dilempar ke tanah. Hewan yang lain segera keluar dari persembunyian mereka. Mereka mengerumuni senjata yang dilemparkan oleh Monyet.

“Kita harus menghancurkan senjata Pemburu ini,” kata Kerbau. Diinjaknya senjata tersebut hingga patah menjadi empat bagian. Hewan yang lain juga turut menginjak senjata tersebut.

“Pemburu datang!” seru Kutilang dari atas dahan pohon Randu. Seluruh hewan yang ada di tempat itu terkejut. Mereka melihat Pemburu keluar dari semak-semak. Sambil terengah-engah pemburu, menatap kerumunan hewan yang ada di depannya.

Pemburu merasa kahwatir melihat hewan-hewan tersebut menatapnya dengan penuh amarah. Diliriknya senjatanya yang tergeletak sudah dalam kondisi rusak.

“Ayo kita serang Pemburu itu!” seru Kerbau. Serentak hewan-hewan tersebut menyerbu ke arah Pemburu. Pemburu yang terkejut, segera berlari menjauhi hewan yang datang ke arahnya dengan beringas.

Hewan-hewan tersebut terus mengejar pemburu yang lari tunggang langgang. Mereka terus mengejar pemburu tersebut, sampai ke luar dari hutan. Hewan-hewan tersebut baru berhenti mengejar, ketika Pemburu sampai di pemukiman penduduk.
“Ayo kita kembali ke hutan,” seru Kerbau. Seluruh hewan tersebut kembali ke hutan mereka. Dalam hati mereka berharap, Pemburu merasa kapok dan takut untuk berburu di hutan lagi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker