CerpenKarya

Cerpen Perlombaan Ayam dan Itik

Ayam dan Itik adalah dua sahabat. Setiap hari mereka selalu mencari makan bersama. Saat Itik mencari makan di tepi sungai, Ayam menunggunya di atas sebuah batu besar. Begitu juga sebaliknya. Ketika Ayam mencari makan di bawah pohon, Itik dengan sabar menunggu sahabatnya itu.

Pada suatu hari, Ayam dan Itik sedang berjalan bersama di pinggir hutan. Karena matahari bersinar dengan teriknya, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon.

“Ayam, tadi aku bertemu dengan Tikus. Dia bertanya kepadaku tentang siapa yang lebih hebat antara aku dan kamu,” kata Itik sambil berbaring di bawah sebuah akar.

“Terus kamu menjawab apa?” tanya Ayam mendekati Itik.

“Tentu saja aku mengatakan aku yang lebih hebat. Diantara semua hewan di hutan ini, hanya aku yang bisa berjalan, terbang dan berenang,” Kata Itik sambil membusungkan dadanya.

“Apa? Kamu mengatakan kamu yang lebih hebat dariku? Sombong sekali kamu Itik. Walaupun kamu bisa berjalan, terbang dan berenang, tapi kamu tidak lebih hebat dari aku. Jalanmu sangat lambat. Terbangmu juga tidak jauh.” Kata Ayam kesal.

Itik terkejut mendengar perkataan sahabatnya itu. Dia segera bangun. “Memang aku yang lebih hebat dari kamu Ayam. Kamu hanya bisa berjalan di tanah saja. Kalau kamu di air, kamu akan tenggelam dan mati,” kata Itik marah.

Ayam dan Itik bertengkar dengan hebatnya. Mereka bersikeras bahwa diri mereka yang paling hebat. Tidak ada satupun yang mau mengalah.

“Baiklah, kita tanyakan kepada binatang di hutan ini. Siapa yang lebih hebat kau apa aku,” kata Itik sambil berjalan ke arah hutan. Ayam segera mengikutinya dari belakang.

Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu dengan Katak. Itik segera mendekati Katak dan bertanya, “Katak, menurutmu siapa yang lebih hebat, aku atau Ayam?”

Katak melihat ke arah Itik dan Ayam. Setelah berpikir, dia lalu menjawab. “Tentu saja kamu yang lebih hebat Itik. Kamu bisa berenang, sama sepertiku. Semua hewan yang bisa berenang, adalah hewan yang hebat,” sahutnya.

Itik sangat senang mendengar jawaban dari Katak. Ia menoleh ke arah Ayam yang tampak kesal. “Kamu sudah dengar jawaban Katak? Aku yang lebih hebat dari kamu Ayam,” kata Itik senang.

“Tunggu dulu Itik. Bukan karena kamu bisa berenang, kamu bisa lebih hebat dari aku. Kita tanyakan pada hewan yang lain. Siapa yang lebih hebat, kamu apa aku,” kata Ayam kesal. Dia berjalan dengan cepat menuju ke arah hutan. Itik dengan berlari mengejar Ayam.

Tidak berapa lama, mereka bertemu dengan Kijang yang sedang makan rumput. Ayam segera mendekatinya. “Kijang, menurutmu siapa yang lebih hebat antara aku dan Itik,” tanya Ayam kepada Kijang.

Sambil mengunyah rumput, Kijang menoleh ke arah Ayam. Diamati juga Itik yang sedang berlari dengan tersengal-sengal ke arahnya. “Menurutku, Ayam yang lebih hebat dari pada Itik,” katanya. “Lihat saja, Itik harus tersengal-sengal untuk bisa mengejar Ayam. Ayam memiliki kemampuan berlari yang hebat, sama sepertiku,” kata Kijang.

“Tuh, kamu dengar sendiri Itik?” kata Ayam kegirangan. “Aku lebih hebat dari pada kamu. Jalanku sangat cepat. Kamu sampai lari dengan susah payah untuk mengejar jalanku.”

“Katak tadi mengatakan aku yang terhebat. Kamu mendengar sendiri tadi Ayam?” seru Itik tidak terima. Kembali mereka bertengkar di sana. Masing-masing mengaku sebagai hewan yang paling hebat.

“Apa yang kalian ributkan?” tanya Kancil yang sedang lewat di sana. Ayam dan Itik terkejut dengan kedatangan Kancil. Karena sibuk bertengkar, mereka tidak menyadari ada Kancil di sana.

“Nah, ini ada Kancil. Kita tanyakan kepada dia, siapa yang lebih hebat diantara kita,” kata Itik. Itik segera menceritakan apa yang sedang terjadi. Kancil manggut-manggut mendengar cerita Itik dan Ayam.

“Begini saja. Untuk menentukan siapa yang terhebat, aku akan memberikan dua perlombaan kepada kalian. Siapa pemenang dari kedua perlombaan tersebut, dialah yang akan menjadi hewan terhebat,” kata Kancil.

Itik dan Ayam menyetujui usul dari Kancil. Masing-masing memiliki keyakinan dapat mengalahkan yang lain.

“Lomba apa yang akan kamu berikan Kancil?” tanya Ayam tidak sabar.

“Lomba yang pertama adalah berlari dari sini menuju ke bawah pohon di tepi sungai. Siapa yang tercepat sampai di sana, akan menjadi pemenangnya,” kata Kancil sambil tersenyum.

Ayam tersenyum mendengar perkataan Kancil. Ia merasa yakin akan mampu mengalahkan Itik dalam lomba lari tersebut. “Lihat saja Itik, aku akan menunjukkan aku lebih hebat dari pada kamu,” katanya penuh percaya diri. Segera dia mengambil posisi untuk berlari.

“Kita lihat saja Ayam,” kata Itik tidak mau kalah. Ia mengambil posisi di sebelah Ayam.

Setelah diberi aba-aba, mereka berlari dengan kencang. Ayam yang memiliki kaki panjang dengan cepat melesat meninggalkan Itik. Dengan terseok-seok Itik mengejar Ayam. Kaki yang pendek dan selaput pada kakinya, menyulitkan Itik dalam berlari.

Jarak antara tempat mulai lomba ke tepi sungai, memang agak jauh. Tapi, dengan kecepatan berlarinya, Ayam telah sampai dalam waktu yang singkat. Di bawah pohon, tampak Kancil menunggu kedatangan Ayam sambil mengunyah rumput.

“Kamu lihat sendiri Kancil, akulah pemenangnya,” kata Ayam sambil berhenti di depan Kancil.

Kancil hanya tersenyum mendengar perkataan Ayam. “Jangan merasa hebat dulu Ayam, masih ada satu perombaan lagi yang harus kamu lakukan,” kata Kancil. “Kita tunggu kedatangan Itik dulu,” lanjutnya.

Setelah beberapa saat menunggu, Itik tidak kunjung muncul. Ayam mulai merasa kahwatir. “Aku akan menjemput Itik, Jangan-jangan ia kabur karena takut mengaku kalah dari aku,” kata Ayam kepada Kancil.

Ayam segera berlari menuju tempat dimulainya perlombaan. Dengan cepat dia berlari menyusuri jalan yang berbatu. Kakinya yang panjang, mempermudah dia untuk berlari.

Tidak berapa lama, dia melihat Itik yang sedang terbaring di tepi jalan. Tampak, dia sedang meringis kesakitan.

“Kamu kenapa Itik?” tanya Ayam kepada Itik. Ditolongnya sahabatnya itu untuk berdiri.

“Aku terjatuh tadi Ayam. Selaput pada kakiku membuat aku tersandung tadi,” kata Itik sambil meringis kesakitan.

“Baiklah, aku akan membantumu berjalan menuju ke tepi sungai,” kata Ayam sambil membopong sahabatnya tersebut. Dengan tertatih, mereka menuju ke tepi sungai.

Kancil hanya tersenyum melihat Ayam membantu Itik berjalan. Dalam hati dia merasa senang rencananya berhasil.

“Lihatlah Kancil, aku lebih hebat dari Itik,” seru Ayam setelah dia berada di dekat Kancil. Itik hanya tertunduk, sambil membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.

“Kita masih ada satu perlombaan lagi. Sebelum kita melakukan perlombaan ini, jangan dulu menganggap dirimu hebat Ayam,” kata Kancil.

“Perlombaan apapun aku siap Kancil. Aku pasti menang melawan Itik,” kata Ayam dengan sombongnya sambil melirik ke arah Itik. Itik yang merasa jengkel dengan kesombongan Ayam, tidak bisa berkata.

“Baiklah, untuk perlombaan yang kedua adalah menyeberangi sungai ini. Siapa pun yang berhasil sampai lebih dulu ke seberang sungai, dia yang akan menjadi pemenangnya,” kata Kancil.

Mendengar perkataan Kancil, Itik merasa sangat gembira. Tubuhnya kembali pulih. Rasa sakit di kakinya, menghilang. Ia merasakan tubuhnya kembali segar.

“Aku akan memenangkan perlombaan ini Kancil,” katanya. “Kamu lihat nanti Ayam, siapa yang lebih hebat diantara kita,” kata Itik kepada Ayam.

Ayam tampak merasa sangat kahwatir. Kesombongannya hilang. Mukanya tampak sangat pucat.

“Bagaimana Ayam, apakah kamu mengaku kalah dari Itik?” tanya Kancil kepada Ayam.

“Baik, aku akan berlomba menyebrangi sungai ini Kancil. Aku tidak akan kalah dari Itik,” kata Ayam.

Itik dan Ayam segera mengambil posisi untuk berenang. Ketika Kancil memberikan aba-aba, dengan cepat Itik melompat ke dalam air. Bulunya yang mengandung minyak membuat tubuhnya tidak basah saat masuk ke sungai. Kakinya yang berselaput, memudahkan dia untuk berenang. Dengan cepat dia berenang menuju ke seberang sungai.

Ayam sendiri ragu-ragu untuk melompat ke air. Dia sadar tubuhnya akan tenggelam, jika ia melompat ke sungai. Namun, kesombongannya, memaksa dia untuk melompat ke air.

Dengan susah payah, Ayam berjuang untuk tidak tenggelam. Sekujur tubuhnya basah oleh air, membuat dia menggigil kedinginan. Kakinya yang panjang, tidak mampu membantunya berenang.

Selang beberapa saat, Ayam sudah lemas kehabisan tenaga. Badannya mulai tenggelam ke air.

Itik, yang sudah sampai di seberang sungai, kembali terjun ke sungai. Dengan cekatan ditolongnya Ayam yang hampir tenggelam. Ditariknya tubuh Ayam ke pinggir sungai.

“Terima kasih Itik,” kata Ayam ketika mereka telah sampai di pinggir sungai. “Kamu telah menyelamatkan nyawaku,” katanya sambil menggigil kedinginan.

“Aku juga berterima kasih kepadamu Ayam. Tadi saat aku terjatuh, kamu menolongku,” kata Itik sambil memeluk Ayam, sahabatnya.

Kancil mendekati Itik dan Ayam yang sedang berpelukan. “Siapa yang terhebat diantara kalian?” Kancil bertanya sambil tersenyum ke arah Itik dan Ayam.

“Itik lebih hebat berenang daripada aku,” kata Ayam sambil menundukkan kepala. Dia melirik ke arah Itik yang ada di sebelahnya

“Ayam lebih hebat berlari daripada aku,” kata Itik sambil tersenyum ke arah Ayam.

Kancil tertawa mendengar jawaban Itik dan Ayam. “Kalian berdua hewan yang hebat. Ayam hebat saat berlari, sedangkan Itik hebat saat berenang. Masing-masing hewan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Janganlah kalian mencarai siapa yang terhebat lagi,” kata Kancil.

Itik dan Ayam menganggukkan kepala. Mereka baru menyadari, persahabatan mereka hampir rusak karena kesombongannya.

“Terima kasih Kancil, kamu telah menyadarkan kami. Tidak penting mencari siapa yang terbaik, tapi lebih penting mengutamakan persahabatan,” kata Itik sambil merangkul Ayam.

“Mulai sekarang, kami tidak akan mencari siapa yang terbaik lagi Kancil. Kami akan menjaga persahabatan kami,” kata Ayam membalas rangkulan Itik.

Kancil tersenyum melihat Itik dan Ayam dengan saling berangkulan berjalan menuju ke dalam hutan. Ia merasa senang bisa mengembalikan persahabatan Itik dan Ayam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker