Menu
Berbagi Pengetahuan ®

“Karya Inovasi dan Kualitas Diri” Bersama Juara Inobel 2016

  • Share
Tri Agus Cahyono

Tri Agus Cahyono lahir di Pacitan 22 Agustus 1982. Dia merupakan guru sekolah dasar di SD Negeri Belik Tepus Kecamatan Tepus, Gunung Kidul. Prestasi terbaiknya di tingkat nasional adalah menjadi juara I Perlombaan Inovasi Pembelajaran Kategori MIPA Tahun 2016. Prestasi tersebut yang mengantarkan dia mendapat short course ke Jepang di tahun 2017. Semua pengalaman dan tips menjadi juara akan dikupas dalam ulasan berikut dengan tajuk “Karya Inovasi dan Kualitas Diri” Bersama Juara Inobel 2016.

Selama menjadi Guru, Tri Agus Cahyono telah menorehkan bebarpa prestasi tingkat nasional. Berikut merupakan prestasi yang pernah dia raih dari tahun 2016 sampai tahun 2019.

  1. Finalis Guru Berdedikasi Daerha Khusus Tingkat Nasional Tahun 2016
  2. Juara I Perlombaan Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional Kategori MIPA Tahun 2016.
  3. Mendapat Penghargaan Kursus Singkat (Short Course) ke Jepang Tahun 2017.
  4. Finalis Perlombaan Olimpiade Nasional Guru (OGN) Tingkat Nasional Guru Kelas SD Tahun 2018.
  5. Finalis Guru Berdedikasi SD Tingkat Nasional Tahun 2019.

Selain prestasi di atas, Tri Agus Cahyono juga berhasil memperoleh beasiswa P2TK Dikdas. Dari beasiswa tersebut, dia berhasil menyelesaikan program studi pascasarjana di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Magister Pendidikan Dasar IPA dengan predikat cum laude.

Karya Inovasi menurut Tri Agus Cahyono merupakan puncak dari proses belajar seseorang. Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Krathwool, ada 6 tahapan berpikir kognitif. Tahapan tersebut meliputi: 1) mengingat (C1), 2) memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan menciptakan (C6).

Dari taksonomi tersebut, karya inovasi merupakan puncak dari seluruh kegiatan berpikir manusia. Ketika seseorang ingin membuat sebuah karya inovasi, dia tidak boleh melewati tahapan tersebut.

Seorang yang ingin membuat karya inovasi harus tahu ilmunya (C1), paham maksudnya (C2), dapat menggunakannya (C3), bisa menganalisis bagian-bagiannya (C4), dan bisa menilai kelebihan dan kekurangannya. Intinya ketika ingin berinovasi, orang harus belajar menguasai materi keilmuan dari karya tersebut.

Menurut Tri Agus Cahyono saat final Perlombaan Inovasi Pembelajaran, penilaian tidak hanya difokuskan pada karya inovasi dan karya tulis saja. Namun, pencipta juga akan dinilai saat presentasi dan tanya jawab.

Cara paling sederhana untuk bisa meningkatkan kualitas diri dengan menciptakan sebuah karya inovasi adalah dengan bekerja. “Saat kita belajar, mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, kita pasti mengevaluasinya (menilai kekurangan dan kelebihan). Disitulah rasa ketidakpuasan akan muncul dan daya cipta kita sebagai manusia (kreativitas) akan muncul,” ungkapnya.

Untuk memilih bidang yang akan dibuat inovasi, menurut Tri Agus Cahyono kuncinya adalah APIK (Asli, Perlu, Inovatif, dan Konsisten; dikutip dari Arif Edi). Yang dimaksud dengan Asli adalah karya inovasi tersebut harus original (tidak menjiplak). Perlu memiliki makna, karya inovasi yang dibuat harus benar-benar diperlukan. Inovatif artinya karya inovasi memiliki unsur kebaruan. Dan konsisten memiliki arti karya inovasi sesuai dengan kompetensi pembuat.

Contoh nyata yang disampaikan oleh Tri Agus Cahyono, di tahun 2016 karya inovasi yang dia buat berupa media “Planetarium Bekam”. Media tersebut dibuat berawal dari hasil ketidakpuasan terhadap media konvensional yang selama ini digunakan yaitu globe. Bertahun-tahun menggunakan globe hasil belajar siswa selalu biasa saja. Peserta didik cenderung tidak tertarik (kurang termotivasi). Sehingga prestasi belajar kurang memuaskan.

“Prestasi belajar peserta didik yang kurang disebabkan kurangnya motivasi. Motivasi yang rendah lebih disebabkan oleh materi yang diajarkan bukan berada pada zona motivasi (jangkauan anak). Zona motivasi anak itu adalah sesuatu yang menantang namun bisa dikerjakan. Jadi, jika materi terlalu sulit dan terlalu mudah maka dipastikan anak kurang termotivasi,” jelasnya.

“Ketika hanya menggunakan globe dalam pembelajaran IPA untuk menerangkan materi pergerakan bumi dan bulan, peserta didik dipaksan untuk berpikir sangat abstrak sehingga anak menjadi penasaran dengan media ini. Fungsi media ini adalah mempermudah observasi ketika anak membandingkan globe yang diperagakan dengan lampu senter dan mengakomodasikan dengan kejadian sebenarnya antara bumi, matahari, dan bulan sangat sulit. Di sinilah ketidakpuasan terhadap globe muncul,” ungkapnya.

Berdasarkan hal tersebut, maka dianalisis kelebihan dan kekurangan globe dalam menjelaskan materi tersebut. Kelebihan globe dalam menjelaskan materi tersebut antara lain; 1) Model yang paling sesuai, 2) Ada di sekolah, 3) Mudah digunakan, dan sebagainya.

Kekurangan dari penggunaan globe tersebut adalah: 1) tidak bisa menampilkan bagaimana kenampakan langit dari bumi saat diperagakan, 2) meskipun anak kelas 6 sudah mampu berpikir abstrak namun kemampuan tersebut masih terbatas, khusus pada gerak semu atau bukan gerak sebenarnya anak sangat kesulitan menerima konsep tersebut, 3) misalnya gerak semu harian matahari, kita menyampaiakan ke anak bahwa gerak semu harian matahari. Matahari tidak bergerak tetapi yang bergerak adalah bumi. Kelemahan globe tadi adalah tidak bisa menampilkan bagaimana gerak semu matahari sehingga menjadi sulit bagi anak. kelemahan ini yang menyebabkan peserta didik akan lemah motivasinya untuk terus belajar, itu kendala yang harus diselesaikan.

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, Tri Agus Cahyono mendapat ide saat merekam video dengan menggunakan action cam. Saat merekam dengan menggunakan action cam, perekem menggunakan dalam kondisi bergerak. Sedangkan obyek yang direkam tidak bergerak. Hasil rekaman akan menunjukkan benda yang direkam akan terlihat seolah bergerak, padahal sejatinya perekam yang bergerak.

Sebagaimana diketahui, kamera merupakan alat optik yang memiliki cara kerja seperti mata. Hal ini yang menimbulkan ide untuk memasang kamera pada globe sebagai pengganti mata. Itulah yang digunakan untuk menjelaskan gerak semu matahari.

Menurut Tri Agus Cahyono, kunci inovasi ada dua. Yang pertama adalah menemukan baru dan yang kedua menyempurnakan yang lama. Hal ini yang tercermin dalam media “Planetarium Bekam”, dari menyempurnakan yang lama (globe) sehingga menemukan media baru yang lebih tepat dalam menanamkan konsep ke siswa.

“Silakan terapkan APIK tadi menurut kondisi anda sendiri. Minimalkan administrasi, bekerja lebih ke hal-hal aplikatif. Ingat kita adalah guru. Tugas utama guru mengajar. Administrasi kebanyakan hanya berupa formalitas, jadi utamakan administrasi yang penting-penting saja,” pesannya.

Dalam seleksi awal perlombaan inovasi pembelajaran dilakukan melalui seleksi karya tulis. Oleh karena itu, karya tulis dibuat secara APIK. Judul harus menarik, segar (baru). Dan yang terakhir adalah harus lolos seleksi uji similarity maksimal 30% dengan menggunakan Turnitin.

“Karya tulis yang paling bagus adalah karya tulis penelitian pengembangan (Research and design). Apabila tidak memahami, lebih baik membuat best practice,” jelasnya.

Kesimpulan yang disampaikan oleh Tri Agus Cahyono di akhir, “dalam berinovasi jangan memikirkan masalah yg bersumber dari luar seperti lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, dan lain-lain. Tetap FOKUS pada KOMPETENSI DIRI itulah yang akan memudahkan kita menemukan hal-hal atau ide penting yg membantu keberhasilan pembelajaran. Sehingga tidak hanya inobel yang kita peroleh, OGN akan dapat, Gupres juga akan kita dapat. Jadi tingkatkan kualitas diri untuk karya yang berkualitas.”

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *