Menulis Buku Dalam Seminggu Bersama Prof. Eko Indrajit

Prof. Eko Indrajit

Menulis buku dalam seminggu melalui seminar virtual di YouTube digagas oleh Prof. Eko Indrajit. Latar belakang dari kegiatan tersebut ketika pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia. Orang-orang diharapkan untuk bekerja dan berkarya dari rumah.

Mengajar sudah dilakoni oleh Prof. Eko Indrajit sejak masih di sekolah dasar. Baginya mengajar merupakan hobby dari kecil, sehingga tidak ada hari tanpa mengajar.

Prof. Eko Indrajit sejak kecil sudah terbiasa mengajar bermacam hal. Mulai dari mengajar sandi pramuka, cara bermain sulap kartu, membuat perangkat elektronik, dan masih banyak hal lagi. Ketika menjadi dosen dan sekaligus konsultan seperti sekarang, mengajar berbagai ilmu dan pengalaman sudah menjadi DNA dalam tubuhnya.

Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, Prof. Eko Indrajit tidak bisa lagi mengajar secara langsung (tatap muka). ” Kalau saya tidak mengajar, stamina menurun. Kalau stamina menurun, saya bisa tertular virus,” kelakarnya.

Hal ini yang membuat Prof. Eko Indrajit di hari kelima lockdown di rumah, dia memutuskan untuk mengajar via streaming di YouTube. “Saya tidak peduli ada atau tidak yang menonton. Yang penting saya mengajar agar semangat. Maka saya membuat EKOJI CHANNEL di YouTube.”

Mengajar melalui streaming di YouTube dia mulai pada tanggal 20 Maret 2020. Semua orang bisa mengikuti seminar virtual tersebut secara gratis. Untuk peserta seminar yang ingin memperoleh sertifikat (bentuk e-sertifikat), dikenakan biaya tambahan 10.000 rupiah. Uang tersebut digunakan untuk membayar teman-temannya yang membantu administrasi.

Seminar pertama yang diselengarakan mengambil tema “DIGITAL MINDSET”. Prof. Eko Indrajit sangat terkejut dengan antusias peserta. Miskipun jumlah peserta yang mengikuti seminar tersebut mencapai 600 orang, tapi video rekaman seminar yang diunggah di channel sudah ditonton oleh 6000 orang. “Yang lebih mengejutkan lagi, jumlah orang yang memesan sertifikat mencapai 1.116 orang. Dalam sehari saya mendapat uang 11 juta rupiah,” candanya. Sejak saat itu sampai sekarang, Prof. Eko Indrajit pada pukul 08.00 pagi secara rutin menyelenggarakan seminar 1-2 jam di YouTube streaming untuk siapa saja yang tertarik.

Menurut Prof. Eko Indrajit, ide membuat seminar di YouTube kemudian mengeluarkan sertifikat dalam bentuk e-sertifikat berasal dari tuntutan profesi sebagai dosen. Setiap dosen harus membuat laporan kum untuk kenaikan jabatan akademik. Biasanya mereka mengikuti seminar dengan bukti sertifikat. Akbiat Pandemi, semua kegiatan seminar dibatalkan. Hal ini menyebabkan dosen-dosen peserta seminar tidak bisa mendapatkan sertifikat. Bagi Prof. Eko Indrajit, hal ini menyebabkan dia kekurangan pemasukkan. Hampir 70% pemasukan Prof. Eko Indrajit berasal dari seminar, workshop, lokakarya, konsultasi, dan sebagainya.

Orang yang ikut dalam seminar yang diselenggarakan secara streaming di YouTube oleh Prof. Eko Indrajit ternyata 80% merupakan orang yang telah membeli buku-bukunya yang dia tulis sejak tahun 1998. Prof. Eko Indrajit mulai menulis buku karena disuruh mahasiswa. Tahun tersebut merupakan tahun krisis ekonomi. Mahasiswa S2 tidak sanggup membeli buku dengan menggunakan mata uang dolar. Akhirnya, buku pertama Prof. Eko Indrajit yang pertama terbit merupakan ringkasan dari 50 buku bahasa inggris yang dia pinjam di perpustakaan. Buku pertamanya tersebut berjudul Manajemen Sistem dan Teknologi Informasi yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Buku pertama tersebut ternyata menjadi best seller.

“Jika ada satu diagram yang menarik perhatian, akan saya jelaskan dalam satu halaman secara ringkas. Sebelum tidur, saya selalu menyempatkan diri untuk menulis satu halaman. Dalam tiga bulan saya sudah dapat menyelesaikan 100 halaman, ” jelasnya. Sampai saat ini, Prof. Eko Indrajit telah berhasil menulis dan menerbitkan 75 buku dan ratusan arikel. Di era sekarang, buku dan artikel dari Prof. Eko Indrajit dapat diunduh secara gratis di academia, eko.id, dan situs lainnya.

Tanya Jawab Dengan Prof. Eko Indrajit mengenai Menulis Buku Dalam Seminggu.

Pertanyaan 1:
Salam. Ini luar biasa Prof. Eko Indrajit Menulis buku dalam seminggu? Bagaimana triknya? Sebulan saja ngos-ngosan. Ini seminggu. Mesti harus ada trik jitu. Bagaimanakah caranya? Terima kasih Isminatun, Sukoharjo

Jawaban 1:
Caranya mudah. kita harus mendisrupsi diri sendiri. Saya langsung saja pada pokok permasalahan ya. Silahkan buka dan subscribe EKOJI CHANNEL. Anda akan melihat beberapa presentasi saya semenjak tanggal 20 Maret 2020 yang lalu. Kemudian pilihlah yang menarik perhatian anda (sesuai yang relatif anda SUKA dan KUASAI). Kemudian saya kasih waktu satu minggu untuk menjawab 6 pertanyaan sederhana mengenai topik yang dibahas, yaitu: 5W1H. Misalnya judulnya DIGITAL MINDSET. Maka anda menjawab pertanyaan (dalam bentuk tulisan) sebagai berikut: 1) APA yang dimaksud dengan digital mindset, 2) MENGAPA digital mindset dibutuhkan, 3) SIAPA yang harus berubah mindsetnya, 4) DIMANA digital mindset harus diterapkan, 5) KAPAN digital mindset diterapkan, dan 6) BAGAIMANA cara menerapkannya. Nah, satu hari tulis satu. Berarti hari keenam sudah jadi. Hari ketujuh kasih ke saya. Anda tidak perlu banyak berfikir, karena semua sudah saya paparkan dalam presentasi. Tinggal anda bahasakan saja sesuai dengan yang anda tangkap. Di hari ketujuh, tulisan saya akan saya tambah-tambahkan sana sini. Kemudian saya akan LANGSUNG terbitkan dengan e-ISBN resmi dari perusahaan publikasi saya yang di Yogyakarta, yaitu CV PREINEXUS yang bermitra dengan penerbit lama Graha Ilmu. Anda adalah penulis pertamanya, saya penulis keduanya. Kalau ternyata e-bukunya lagu (kita jual di situs EKOJI CHANNEL dengan harga murah meriah, karena yang penting banyak yang beli). Aagar menarik, semua royalti jadi milik anda. Kalau ternyata banyak yang laku, kita terbitkan versi kedua dalam bentuk fisik sehingga anda dapat ISBN. Tertarikkkkk??? saya mau lelang judulnya malam ini. Silahkan nanti dipimpin moderator. Kalau ada 3 orang memilih juduhl yang sama, lebih baik. Jadi pengarangnya 4 orang plus saya. Rejeki dibagi tiga penulis. Ayo Menulis Buku Dalam Seminggu.

Pertanyaan 2:
Maaf Prof. Eko Indrajit, kalau ada pertanyaan enakan mana jadi penulis atau YouTuber? Ridwan Nurhadi

Jawaban 2:
Dulu saya jadi penulis karena masih banyak waktu luang. Dan waktu itu khan belum ada internet. Nah sekarang karena waktu saya terbatas, maka saya lakukan kombinasi. Kalau Sabtu Minggu saya menulis, kalau hari biasa saya jadi Youtuber. Bagi saya, buku dan youtube adalah MARKETING BROCHURE atau MARKETING TOOLS. Karena orang mengenal kita, baru mereka mengundang kita untuk bicara di acara mereka. Dari situlah saya menghidupi keluarga saya hingga saat ini.

Pertanyaan 3:
Selamat malam Prof. Eko Indrajit, perkenankan saya Supyanto dari kota Bekasi, pertanyaannya apa yang menjadi modal utama pak Prof. Eko Indrajit sehingga menjadi kekuatan bagi guru yang mau belajar menulis untuk terus bisa menulis seperti yang Prof. Eko Indrajit lakukan?

Jawaban 3:
Waktu kecil, cita-cita saya sederhana. Saya ingin keliling Indonesia melihat keindahan kota-kotanya, tapi dibayarin orang lain. Setelah saya jadi penulis, tiba-tiba undangan seminar ke sana sini menggila. Akhirnya dari tahun 1998 sampai 2003, saya sudah berkunjung ke 27 provinsi ketika itu. Nah kemudian cita-cita berubah. ingin bisa keliling dunia, dibayarin orang lain. mulailah saya mengunggah tulisan serta powerpoint (biasanya powerpoint dalam bahasa Inggris) ke internet. Dan ehhhh, malah ada undangan dari beberapa negara. Jadi motivasi saya adalah ingin keliling dunia gratis dibayarin orang lain karena ingin melihat berbagai keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Sampai saat ini saya sudah hitung, telah mengunjungi 73 negara. Masih lebih dari 100 negara lagi yang saya ingin lihat. Makanya sekarang saya tetap menulis dan jadi youtuber. Maaf, jadi youtuber baru 3 minggu sebenarnya (hehehe maklmulah saya generasi X).

Pertanyaan 4:
Assalamualaikum Prof. Eko Indrajit, nama Rasita dari Bengkulu. Apakah boleh kita membuat cerita yg berbeda-beda dalam satu buku?

Jawaban 4:
Sangat boleh, nanti judulnya adalah sebagai berikut, misalnya: DIGITAL MINDSET: Dilihat dari Berbagai Perspektif. Ada satu youtube dimana saya mewawancarai co-foundernya Tokopedia. Menarik untuk dibuat bukunya.

Pertanyaan 5:
Maaf Prof. Eko Indrajit, bagaimana cara membagi waktu untuk menulis dengan jadwal Bpk yang super sibuk. Apakah meluangkan waktu khusus atau disela-sela kesibukan Bapak untuk menulis? Agus Purwadi, Ponjong

Jawaban 5:
Jika anda menyenangi yang anda lakukan, pasti waktu dapat anda alokasikan. Sebelum tidur saya terbiasa membuat 3-5 halaman tulisan. Saking terbiasanya, sekarang kalau belum nulis, ndak bisa tidur. Dan saya ingin meninggalkan legacy untuk anak cucu saya. Sehingga kalau nanti mereka ngecek siapa kakek atau kakek buyutnya, bisa tercatat di internet. itulah cara hidup 1000 tahun lagi hehehe.

Pertanyaan 6:
Ijin bertanya Prof. Eko Indrajit, saat pandemi ini semua kegiatan dilakukan secara online baik sekolah, kuliah, bahkan kerja. Saat wabah nanti berakhir, apakah kegiatan ini bisa memungkinkan dimasukkan ke dalam kurikulum, misalnya Senin-Rabu kegiatan tatap muka di sekolah, Kamis- Jumat secara online. Karena secara tidak langsung ada “memaksa” guru dan murid bahwa era digital class memang sudah harus dilakukan. Terimakasih, Sius, SMA 2 Salatiga.

Jawaban 6:
Saya rasa akan ada perubahan besar-besaran dalam sistem pendidikan kita setelah pandemi ini. teknologi akan banyak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. saya sudah prediksi ini 15 tahun yang lalu. tapi tidak menyangka kita belajar e-learning bukan karena memanfaatkan peluang, tapi karena kita mendapatkan masalah pandemi.

Pertanyaan 7:
Apakan setiap menulis selalu berpatokan pada 5wh? Urutan 5wh apakah bebas atau beraturan sesuai contoh dari bapak profesor? Unih-Subang.

Jawaban 7:
Tidak, 5WH adalah untuk penulis awal yang ingin belajar menulis. Karena sifatnya deskriptif, tapi sangat filosofis. Setiap isu apapun, secara filsafat harus bisa dijelaskan dalam 5W1H. Kalau sudah biasa menulis deskriptif, barulah mulai menulis yang sifatnya: eksploratif, komparatif, arguentatif, persuasif, dan lain sebagainya. Contohnya: kalau isunya COVID-19, saya yakin dengan 5W1H, anda bisa membuat satu buku dalam seminggu. Apalagi ada banyak referensi di internet saat ini. Musuh menulis adalah diri sendiri. Motivasi hanya dapat dibangun dari dalam diri sendiri. Oleh karena itu, sering saya katakan, pilihlah sesuatu yang anda SUKAI dan KUASAI. Kalau sudah terbiasa dengan 5W1H, lainnya menjadi mudah. Itu pengalaman saya.

Pertanyaan 8:
Kalau saya senang menjadi editor, bagaimana menurut Prof. Eko Indrajit dari Zubaedah, Depok (Jawa Barat).

Jawaban 8:
Menurut saya editor lebih sulit pekerjaannya dibandingkan dengan penulis. Karena yang diedit tidak sekedar bahasanya, tapi yang penting adalah pesan yang ingin disampaikan ke target audiens terentu benar-benar tersampaikan secara efektif dan efisien. Jadi selain ilmu bahasa, seorang editor ulung harus memiliki kompetensi psikologis, linguistik, marketing, pedagogik (untuk buku pendidikan), dan komunikasi (pendekatan interdisipliner).

Pertanyaan 9:
Salam kenal, saya ibu Sumarni dari klaten. Prof. Eko Indrajit, bagaimana memulai menulis yg baik. Saya selalu tidak percaya diri mau menulis. Biasanya bila ada ide saya tulis lewat medsos tapi tidak terkoordinir sehingga tidak ada jejaknya. Mohon bimbingan. Spesialisasi Bahasa Indonesia.

Jawaban 9:
Menulis adalah cara kita menyampaikan buah pikiran lewat tulisan. Jadi bagi saya semua tulisan adalah baik, karena dilakukan dari hati. Ibu pasti punya banyak hal yang ingin diceritakan kepada orang lain. Tulis saja apa yang ada di kepala kita. Tidak usah takut, kualitas menulis itu ditentukan oleh pembacanya dan pembaca itu macem-macem. Kalau saya menulis untuk kakek saya, akan beda bahasanya dengan kalau menulis untuk generasi anak2 saya. kualitas menulis adalah masalah jam terbang. lama-lama jadi bagus sendiri. Jaman sekarang, tulisan tidak perlu terkoordinir. masukin aja ke internet, maka nanti akan terkoordinir sendiri. karena dalam dunia maya, berlaku data yang unstructured dibandingkan dengan structured. menulis blog seperti yang disampaikan Oom Jay adalah sangat baik. saya selain menulis, senang juga bikin puisi dan lagu kok…. apapun yang ingin saya sharing, saya tulis. satu-satunya yang perlu diperhatikan adalah (menurut saya), buatlah tulisan yang tidak membuat orang lain sedih karena kita menyampaikan hal-hal yang buruk atau jelek. Menulis hal-hal yang buruk kalau bagi saya mendatangkan energi negatif. Akan mengganggu kehidupan masa kini dan mendatang.

Pertanyaan 10:
Assalamualaikum, luar biasa sekali Prof. Eko Indrajit, saya terkesan dengan kata2 dulu ketagihan megajar, sekarang ketagihan menulis. Bagaimana cara membangkitkan semangat menulis bagi pemula seperti saya ini Prof? Dari Ikasiswati, tangerang

Jawaban 10:
Tulislah bersama orang yang berani menulis. Mbak Ikasiswati mau menulis bareng saya? Saya siap menemani, mendampingi, bahkan menerbitkan buku Ibu. Bagaimana, pasti nanti ketagihan deh. Ayo, Menulis Buku Dalam Seminggu.

Pertanyaan 11:
Selamat bertemu kembali pak Prof. Eko Indrajit, sebelumnya terima kasih buat kiriman Sertifikatnya ke Tana Toraja. Oh ya pak Prof, bagaimana menjaga kondisi pemikiran agar senantiasa fokus pada apa yang kita akan tuliskan. Terimakasih. Yulius Roma Patandean_Tana Toraja.

Jawaban 11:
Supaya fokus, jangan menulis terlampau lama (kecuali anda membuat penelitian atau tulisan dokumenter). Paling lambat 100 hari sudah harus jadi. Karena kalau lama-lama, kita kehilangan folkus, dan ilmu yang mau kita sharing sudah berkembang dan berganti lagi isunya. Makanya saya tawarkan, ayo menulis buku dalam SEMINGGU. Pak Yulius mau menulis dengan saya? Di tahun 2003, saya menulis dengan 20 mahasiwa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, hasilnya adalah 25 buku dalam 6 bulan. Pilih satu judul yang lagi trend, bahas dari sisi yang tidak pernah terlihat orang lain misalnya masalah COVID-19, saya belum pernah melihat orang yang melihat COVID-19 dari sisi peluang, semua bicara masalah ancaman, kesedihan, ketakutan, dan lainnya. Anak-anak jaman sekarang bilang: ANTI MAINSTREAM. Menerbitkan buku sekarang tidak kayak dulu. Dulu kita yang butuh penerbit, sekarang penerbit yang butuh kita. Karena saingan mereka adalah internet. Jadi ndak usah takut, anda buat buku, tawarkan ke semua pemerbit. Kalau ndak ada yang mau, saya yang terbitkan. Syarat terbit di tempat saya sederhana. semua tulisan anda masukan ke cek plagiarisme. Sejauh 80 persen orisinal, langsung saya terbitkan.

Pertanyaan 12:
Selamat malam Prof. Eko Indrajit. Maaf mau bertanya tentang bunga rampai. Misalnya saya ada ide dan ini memang sdh saya rencanakan sehubungan dengan tugas dari omjay diakhir kuliah online, kami peserta paling tidak dapat menerbitkan sebuah buku tentang hasil resume materi nara sumber dan buku satu bebas boleh fiksi dan non fiksi dan rencana tugas yangg buku satu saya ambil judul “Bungai Rampai Yang Terberai” itu nanti isinya kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan syair dan pantun, kumpulan esai dari coretan2 saya yang masih terberai di buku catatan sejak sma dulu. Apakah bisa dijadikan satu buku dengan judul “Bunga Rampai Yang Terberai” ya prof? Terima kasih, maaf panjang pertanyaannya. Eni setyowati Gunungkidul.

Jawaban 12:
Kalau ingin mengumpulkan bunga rampai karya-karya orang lain, anda harus minta persetujuan masing-masing mereka. Kecuali anda membahasakan ulang dan menyitir bahwa itu diambil dari karya mereka.

Pertanyaan 13
Prof. Eko Indrajit saya mau tanya, bagaimana caranya supaya kita benar benar bisa fokus dalam menulis sehingga kita dapat menyelesaikan tulisan dengan cepat, soalnya kita juga bekerja. Sri indayani lamongan

Jawaban 13
Seperti saya sampaikan dahulu Bu, ibu pilih satu judul, kemudian ceritakan secara 5W1H di hari Sabtu dan Minggu. Feeling saya Ibu bisa selesai antara 25-30 halaman. Sisa waktunya 5 hari di hari kerja untuk tambah kurangi. jangan mulai dari hari Senin, pasti ndak jadi2. Saya selalu memulainya dari Jumat malam, karena Sabtu dan Minggu ada waktu luang lebih banyak.

Pertanyaan 14:
Saya Wiji – malang. jika menulis di blog berbahan dari ekoji channel atau sumber lain nantinya, apakah harus selalu dicantumkan sebagai referensi

Jawaban 14:
Khusus untuk saya, ilmu saya adalah open source. siapa aja boleh menikmatinya. Namun agar anda terbiasa, pakailah istilah attribution – artinya secara langsung atau tidak langsung anda mention dari mana ide tulisan diambil. Memang etikanya begitu, agar nanti jika anda sudah punya ide orisinil, orang juga akan melakukan hal yang sama terhadap tulisan saya. Dulu kita sering dinasehati ayah ibu: “kata nenek, atau kata kakek” nah itu adalah contoh atribusi yang sederhana.

Pertanyaan 15:
Selamat malam Prof. Eko Indrajit, saya Iin Kediri. Bagaimanakah konsep literasi digital yang sesuai dengan negara kita? Karena banyak informasi yang luar biasa banyak dan orang cenderung percaya dg semua informasi tersebut. Bagaimana mengatasi jika dikaitkan dengan digital Mindset? Terima kasih

Jawaban 15:
Thats a good point mbak Iin. Judul bukunya adalah LITERASI DIGITAL ALA NUSANTARA. Penulisya adalah anda dan saya. Kita tulis mulai besok dalam seminggu? Bekalnya cuman niat dan internet.

Pertanyaan 16:
Luar biasa Prof. Eko Indrajit, saya 8 tahun baru bisa menyelesaikan 1 novel. Mohon beri semangatnya, Prof. Sekarang lagi semangat menulis lagi. Ada trik khusus apa agar tidak buntu cari sambungan ide? Ada seminar tentang menulis kapan lagi ya, Prof? Hamdani – KEPRI.

Jawaban 16:
Anda hebat. Saya mau nulis novel aja belum sempat-sempat. Agar tidak buntu, ketika ide muncul, dan sedang menggebu-gebu, tulislah sampai tuntas. Saya terkadang kalau lagi IN, bisa ndak mandi atau makan. Takut kehilangan ide, gagasan, dan semangat. Kayak waktu jaman pacaran dulu deh, kalau lagi mood kan tidak ada yang bisa menghalangi. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, karena cinta.

Pertanyaan 17:
Assallammuaualaikum. Wr Wb, maaf bagaimana Prof. Eko Indrajit bagi waktu antara menulis dengan pekerjaan sehari-hari. Apalagi banyak tugas sampiran yg harus segera diselesaikan. Belum dengan pekerjaan Di rumah tangga . Kalau saya sebagai ibu RT yg harus menyiapkan segala sesuatu di rumah dalam pertemuan-pertemuan , Panitia lomba di dinas kota, Kecamatan dan lain-lain. Terkadang sampai bingung mana yg harus diselesaikan dulu. Kalau kita sdh memberikan skala prioritas, bisa menulis buku secepat itu. Keinginginan ada tapi terbentur kegiatan lain. Mohon pencerahan Maturnuwun. Wassallam. Wr. Wb. Rifatun Salatiga.

Jawaban 17:
Jangan waktu mengatur kita, kita yang harus mengatur waktu. Paling tidak alokasikan hari Sabtu dan Minggu seharian. Bikin kontrak tak tertulis dengan suami/istri dan anak-anak. Buatlah menulis sebagai sesuatu yang PENTING dan GENTING, sehingga harus segera dikerjakan. Itu namanya prioritas.

Pertanyaan 18:
Pak Prof. Eko Indrajit, bila anda menilai baik tidaknya sebuah buku apa yg pak prof jadikan tolak ukurnya? (Chandra-Langkat, SUMUT)

Jawaban 18:
Sederhana, kepuasan pembaca. karena pembaca yang puas, akan merefer ke orang lain. Akibatnya buku habis dibeli dan dicetak lagi. Intinya setiap buku punya target audiens yang ingin diraih. Selagi mereka merasa mendapatkan sesuatu, berarti buku tersebut baik adanya (secara etika manfaat yang dirasa adalah yang baik-baik, bukan dalam hal buruk).

Pertanyaan 19:
Selamat malam prof,saya sudah mampir di YouTube bapak, saya tertarik ketika melihat judul strategi membangun ekosistem e learning, bolehkah dijelaskan sedikit tentang judul tadi? Noralia-semarang.

Jawaban 19:
Cara membangun ekosistem di organisasi yang ingin menerapkan e-learning. Karena di dalam ekosistem ada banyak komponen yang harus dipersiapkan komponen tersebut. Seperti apa jenisnya? silahkan tonton secara lengkap, dan jangan lupa, subscribe, like, share dan bunyikan loncengnya.

Pertanyaan 20:
Saya Eko Endarmoko dari Bringin – Kab.Semarang, Bertanya: menurut prediksi Prof. Eko Indrajit, arah pembelajaran masa depan yang sesuai dgn kultur masyarakat Indonesia yang maaf kurang suka membaca seperti apa?

Jawaban 20:
Semua akan lari ke blended learning, dimana antara model pembelajaran formal, nonformal, dan informal akan menjadi satu – yang difasilitas dengan teknologi informasi.

Pertanyaan 21:
Super sekali Prof, saya baru buka dan baca daftar isi saja sudah yakin ini bukan sembarang waktu yang di gunakan, pengetahuan, baca dan merangkai tulisan. Saat ini saya hanya bisa bilang super sekali. Bisakah saya menulis seperti anda Prof. Eko Indrajit.

Jawaban 21:
Anda bisa menulis jauh lebih baik dari saya. Soalnya anda ada yang mengajari dan ada yang mau mendampingi. Saya dulu harus belajar dan jatuh bangun sendiri. Pepatah mengatakan: ala bisa, karena biasa. Tak kenal, maka tak sayang. Menulis adalah masalah jam terbang. Semakin anda sering terbang, akan semakin mulus take off (terbang), dan landingnya, ayo menulis bersama saya. Anda penulis pertama, saya penulis kedua. Ayo, Menulis Buku Dalam Seminggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *