Ilmu Sejarah – Masa Pemerintahan Jayanegara

Masa Pemerintahan Jayanegara – Jayanegara merupakan anak Raden Wijaya dari Tribhuwaneswari. Jayanegara menemukan julukan Kala Gemet. Pada masanya banyak terjalin pemberontakan yang dicoba oleh pengikut- pengikut bapaknya, yang dinaikan jadi pejabat.

Ini terjalin sebab Jayanegara merupakan seseorang yang tidak cakap dalam perihal kepemimpinan, sehingga ia gampang dimanfaatkan orang buat mengadu domba orang- orang yang sudah berjasa pada Majapahit. Pemberontakan tersebut, antara lain semacam berikut:

  • Pemberontakan Ranggalawe

Pemberontakan Ranggalawe ini terjalin pada tahun 1309.

  • Pemberontakan Lembu Sora

Pemberontakan Lembu Sora ini terjalin pada tahun 1311.

  • Pemberontakan Gajah Biru Serta Juru Demung

Pemberontakan Gajah Biru serta Juru Demung ini terjalin pada tahun 1313.

  • Pemberontakan Empu Nambi

Pemberontakan Empu Nambi ini terjalin pada tahun 1316.

Mulai dari situlah sangat nampak sekali hendak kelemahan dari Jayanegara didalam mengetuai kerajaan. Sementara itu, nambi merupakan pejabat paling tinggi yang terletak dibawah raja, ialah Rakryan Mahapatih Majapahit. Serta pemberontakan yang lumayan besar merupakan pemberontakan Ra Kuti serta Ra Semi pada tahun 1319.

Pemberontakan Ra Kuti serta Ra Semi ini nyaris dapat membuat serta bawa runtuhnya kerajaan Majapahit, sebab sudah sukses menduduki ibukota kerajaan. Didalam pemberontakan ini, Jayanegara menyelamatkan diri ke Desa Badender dengan dikawal oleh prajurit Bhayangkara( makna Bhayangkara merupakan pengawal individu raja) yang dipandu oleh Gajah Mada.

Berkat kecakapan Gajah Mada, pemberontakan tersebut kesimpulannya bisa diredam serta dipadamkan. Pada tahun 1328, Jayanegara tewas dibunuh oleh tabib kerajaan yang bernama Ra Tanca. Ra Tanca berikutnya bertarung melawan Gajah Mada serta pada kesimpulannya Gajah Mada sukses menewaskan Ra Tanca.

Masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi

Tribhuwanatunggadewi merupakan seseorang anak Raden Wijaya dari Gayatri ataupun adik keponakan dari Jayanegara. Tribhuwanatunggadewi tidak lama memegang tampuk kepemimpinan. Kepemimpinan Tribhuwanatunggadewi didampingi oleh Mahapatih Amangkubumi, Arya Tadah yang pada dikala itu lagi hadapi sakit.

Pada masa pemerintahannya terjalin pemberontakan di wilayah Besuki yang dipandu oleh Sadeng serta Keta pada tahun 1331. Pemberontakan ini lumayan membahayakan Majapahit. Oleh sebab itu, atas usul dari Arya Tadah, Gajah Mada setelah itu dinaikan bagaikan panglima paling tinggi kerajaan dengan misi buat menumpas segala pemberontakan yang terjalin.

Berkat kecakapan Gajah Mada, kesimpulannya dia dinaikan jadi Mahapatih Amangkubumi Majapahit, dengan mengambil alih posisi Arya Tadah. Pada dikala pelantikannya seperti itu, setelah itu Gajah Mada mengucapkan suatu sumpah yang sangat populer ialah Tan Amukti Palapa.

Isi sumpah Tan Amukti Palapa

Isi sumpah Tan Amukti Palapa merupakan kalau Gajah Mada tidak hendak sempat menyudahi berjuang serta hidup lezat saat sebelum saat sebelum bisa menyatukan Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit.

Pada tahun 1350 Gayatri meninggal serta dimakamkan di Bhalango( dekat Tulungagung). Karna kematian ibunya, Tribhuwanatunggadewi mengundurkan diri bagaikan Raja. Berikutnya takhta kerajaan diserahkan kepada putranya yang bernama hayam wuruk, yang masih berumur 16 tahun.

Masa pemerintahan Hayam Wuruk

Hayam Wuruk berarti ayam jantan yang berkokok di pagi hari. Hayam Wuruk merupakan raja terbanyak Majapahit. Gelarnya merupakan Sri Rajasanagara. Pada masanya, Majapahit hadapi puncak kegemilangan. Berkat kecakapan kepemimpinan Hayam Wuruk serta Mahapatih Gajah Mada, Majapahit tumbuh jadi kerajaan yang besar, kokoh, tangguh, dihormati kawan serta disegani lawan.

Bagaikan seseorang raja, Hayam Wuruk sangat berpandangan luas, teliti, adil serta disiplin. Ia membagikan peluang Gajah Mada buat penuhi sumpahnya itu, ialah menyatukan Nusantara. Dalam waktu sebagian tahun saja, Gajah Mada menjadikan Majapahit kerajaan yang sangat besar. Misalnya pada tahun 1334 menaklukan Pulau Bali serta pada tahun 1337 menaklukan Sriwijaya.

Bagi Kitab Negarakertagama, wilayah yang ditaklukkan Majapahit serta mengakui kedaulatannya merupakan bagaikan berikut:

  • Wilayah Melayu

Wilayah Melayu meliputi Jambi, Minangkabau, Singapore, Siak, Kampar, Rokan, Mandailing, Tamiang, Perlak, Karitang, Padang serta Lampung.

  • Wilayah Malaka

Wilayah Malaka meliputi Pahang, Langkasuka, Trengganu, Tumasik, Pattani serta Kuala Lumpur.

  • Wilayah Jawa

Wilayah Jawa meliputi 21 negeri wilayah. Daerah- daerah itu merupakan Daha( Kediri), Jagaraga, Kahuripan( Jenggala), Tanjungpura, Pajang, Kembangjenar, Matahun, Wirabumi, Keling, Kalingapura, Pandan Salas, Paguhan, Wengker, Kabalan, Tumapel, Singasari, Pamotan, Mataram, Lasem, Pakembangan serta Pawanawan. Wilayah Pasundan nyatanya tidak masuk dalam daerah kekuasaan Majapahit.

  • Wilayah Timur

Wilayah Timur meliputi Bali, Nusa Penida, Bima, Dompo, Mengerikan, Wuanin( Papua Barat), Lumak, Makassar, Selayar serta Caltoa( Kangean).

  • Wilayah Utara

Wilayah Utara meliputi segala wilayah Kalimantan serta Sulawesi sampai Filipina Tengah ke Selatan.

Nyatanya terdapat satu wilayah di Jawa yang belum bisa di taklukkan, sementara itu lumayan dekat, ialah Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Bagi Kidung Sundayana, Gajah Mada mau menaklukkan dengan metode diplomatis. Ia membujuk Hayam Wuruk supaya ingin menikahi Dyah Pitaloka gadis raja Sunda.

Pada waktu raja Pajajaran mengarah Majapahit buat membawakan putrinya menikah, rombongan Kerajaan Sunda itu berkemah di suatu wilayah yang bernama Bubat. Disanalah kesimpulannya terjalin kesalahpahaman yang kesimpulannya menimbulkan terjalin pertempuran yang diucap dengan perang Bubat. Sri Baduga( raja Sunda) tewas terbunuh serta Dyah Pitaloka bunuh diri di tempat itu pula.

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit banyak mendirikan bangunan suci. Ada pula bangunan suci yang dibentuk pada masa pemerintahan Hayam Wuruk tersebut ialah bagaikan berikut:

  1. Candi Penataran di Blitar
  2. Candi Sawentar
  3. Candi Jabung
  4. Candi Tikus di Trowulan
  5. Candi Telagawangi
  6. Candi Surawangi
  7. Candi Sumberjati
  8. Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu
  9. Candi Kedaton di Besuki

Dibidang seni sastra, banyak para pujangga yang melahirkan karya- karya bermutu besar antara lain:

  1. Negarakertagama karya Empu Prapanca
  2. Arjunawijaya serta Sutasoma karya Empu Tantular
  3. Kuncarakarna
  4. Parthayajna
  5. Pararaton
  6. Ranggalawe
  7. Panjiwijayakrama
  8. Sorandaka
  9. Sundayana

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *